Minggu, 11 Desember 2011

TAK TERPEJAM, PIKIRAN MENEMBUS BATAS CAKRAWALA



BY. NANI CAHYANI
Entah mengapa malam ini, saya tak dapat terpejam. Coba pejamkan mata tetap saja tak bisa tertidur. Pikiranku mengembara sejauh-jauhnya. Ada banyak cerita hari ini yang kulalui, mulai sejak pagi hari. Kegiatan rutinku adalah mengajar, memotivasi siswa untuk mencintai pengetahuan. Setiap kejadian hari ini seperti bermain-main dibenakku hilir mudik, lalu lalang dan bercengkrama dalam ingatanku.
Saya teringat saat lagi dikampus, saat lagi berkumpul bersama rekan-rekan dosen, mereka adalah Pak Bahar dan Ibu Neti saling bertukar cerita masing-masing. Pak Bahar bercerita hari itu, dia merasa kurang fit karena banyaknya rutinitas, Ibu Neti tak kalah serunya bercerita bahwa saat ini dia juga merasa agak sumpek dengan aktifitasnya yang lumayan bejibun juga. Sayapun tak mau ketinggalan menimpali mereka sudah dua hari ini saya memberi ujian mid speaking dan mewawancara mahasiswa satu persatu-persatu. Kami saling menumpahkan unek-unek masing-masing. Sangat mengasyikkan karena ternyata saat berbagi cerita bersama mereka terasa kedekatan dan keakraban terjalin dengan sendirinya, walaupun yang diceritakan yaa terkesan seperti sesi curhat hehehe.
Agak lama menghabiskan waktu di laboratorium bahasa, sayapun memutuskan untuk pulang kerumah, karena jam dua siang saya kembali lagi kekampus. Tetap dengan schedule yang sama memberi ujian mid Speaking II kelas B dan C semester tiga. Saat melewati satu persatu anak tangga. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku, orasi mahasiswa entahlah apa yang mereka bahas. Memakai alat pembesar suara tentulah suara mereka terdengar kesemua sudut kampus. Buatku orasi dan menyampaikan aspirasi adalah hal yang wajar dan manusiawi. Pertanda ada proses pemikiran yang mulai terkritisi oleh pemikiran intelek yang elegant.
Dalam reformasipun peran mahasiswa, teramat sangat penting. Mereka selalu berada dilini depan perubahan bangsa. Mulai dari era Presiden Soekarno hingga tahun 1998 krisis ekonomi yang menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru. Sejarah selalu mencatat dengan tinta emas pemuda adalah tokoh sentral perubahan “huge” bangsa. Teringat ungkapan Raja Dangdut, Rhoma Irama. “Darah Muda Darahnya Para Pemuda”, ucapan Presiden Soekarno “Berikan aku sepuluh pemuda dan aku akan merubah dunia” lebih kurangnya seperti itu. Mohon maaf jika ada kesalahan mengutip ucapan mereka. Dalam skala nasional peranan pemuda/mahasiswa Nampak jelas, demikian halnya pula dalam skala internasional pergolakan di Libya, Tunisia, Mesir dan beberapa Negara-negara lainnya berawal dari pergerakan pemuda.
Memandangi dan mendengar sepintas orasi mahasiswa, sambil bersiap-siap melaju pulang kerumah, ditemani Jupiter Z yang setia menemaniku selalu. Saya berfikir kembali betapa mahasiswa/pemuda ini kelak akan menoreh cerita hidupnya dan terbingkai dengan indahnya, kelak dimasa depan mereka akan bangga bercerita pada generasi selanjutnya. Memberikan tongkat estafet pada yang akan memulai garis start yang baru. Saya salut pada semangat mereka untuk menjadi penyambung lidah pengharapan masyarakat akan keadilan yang tercerahkan. Sempat sedikit mengutip sedikit ucapan mereka “jangan sampai ada gayus gayus kecil lahir di negeri ini”. Pilihan kata yang cukup menarik. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan moment tersebut, untuk menjadi tampilan gambar artikel ini. Tapi tak mengapalah mengambil gambar dari searching machine dan menjadikan tampilan foto utama artikel singkatku ini. Rintik hujan menemaniku, sayapun melintasi sekumpulan mahasiswa-mahasiswa itu. Uupss hujan membuat segala bumi menjadi basah olehnya, saya sangat menikmatinya. Karena hujan mengingatkanku pada saat kecil. Berlarian dan bernyanyi nyanyi kecil “mandi hujan… mandi hujan…’’ mmmm indahnya masa itu. Tak ada beban dan tanggung jawab.
Tanganku terus menekan tuts tuts laptopku, ide-ide, kisah-kisah mengalir. Terus kutulis.. tak sadar malam sudah larut. Namun ide-ideku terus membuih dalam CPU ku yang kusebut Brain. Acer, laptop sederhana ini menjadi saksi-saksi cerita-cerita yang kutulis. Acerku menemaniku dalam perjalanan waktuku… selalu. Kutunggu selalu kapan inspirasi menulis menghadirkanku pada dunia yang penuh dengan huruf-huruf, jalinan waktu yang berikatan, dunia yang hanya kumiliki sendiri saat lagi menulis. Berbincang-bincang melewati batas peradaban, seolah-olah bertemu dan berdiskusi dengan ilmuwan Socrates, Duduk dalam singasana Sang maestro puisi “Kahlil Gibran”, takjub dengan roman romantis “William Shakespeare” ahh… sungguh pengetahuan menajamkan mata hati dan batinku. Semoga selalu tercerahkan. Hingga inspirasi terus mengalir bermuara pada rasa haus untuk terus mereguk intisari pengetahuan, membaca semesta yang megah, hingga menyibak tabir pengetahuan. Semoga…..,
Sang Khalik teduhkanlah jiwaku.
My Private room, goresanku saat mata tak terpejam.
Baubau, 11 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar