Jumat, 30 Desember 2011

DREAMS...,



BY. NANI CAHYANI
Watching the joy stars up above..,
Seeing the white doves bring all the hopes..,
Shining and touching, then embrace them..,
Flying around the beyond..,
Mind standing still and pride..,
Ideas across all the ocean of the world..,

Always yelling in a heart,
Always stay inside of a soul,
Stories.., like the necklace of pearls…,
Chats …, like the sounds of wind whispers softly..,
Talks …, like the voices of rhymes..,

Walk in path of wishes, angels hold a drop of dews..,
Dreams are shining bridges to heaven..,
Dreams are millions golden words and thoughts..,
Dreams are miracles waves in the eyes of me..,
Dreams are thousands and billions of joy hearts.
Like a guiding star…,
Ah…., dreaming of millions of hopes in sky.
Dreaming of reaching the ocean of knowledge.., Always…..
Goresanku saat merindukan tuts tuts laptopku untuk menulis lagi.., berimajinasi, berbincang-bincang dengan pikiran.

Baubau, 30 Desember 2011

Selasa, 27 Desember 2011

TERIMA KASIH KORAN “RADAR BUTON”





BY. NANI CAHYANI
Sedikit tulisan ini hanya untuk menyampaikan terima kasihku pada Koran “RADAR BUTON”, yang telah memuat tulisanku. Di dua Edisi yakni; 25 November dan 26 November 2011, artikel ku yang berjudul “PENDIDIKAN ADALAH PARADOKS MENATAP MASA DEPAN”. Segala cerita dalam hidupku akan selalu ku abadikan di blog ini; www.nanicahyani.blogspot.com. Moga semangat dan ispirasi untuk terus menulis akan selalu terbarukan. Terima kasih “RADAR BUTON”.

Senin, 26 Desember 2011

MELIHAT BINTANG BERSAMAMU




BY. NANI CAHYANI
Ku rindu tuts komputer untuk menulis lagi, ku rindu saat memandangi layar laptopku, kurindu saat kalimat-kalimat puitis terangkai dengan indahnya, kurindu….., berada di ujung lautan luas tak berdinding, kurindu melebur dalam rona rembulan yang tersibak oleh cahaya, kurindu mentari bersanding di atas singasana syurgaloka, kurindu lembut jemarimu yang mengusapku manja saat sedih, kurindu dan teruslah ku merindumu dalam setiap detak tak bersuara.
Sebait bahasa kalbuku untukmu.., betapa tidak karena kecongkakkanku mengabaikanmu seharian. Engkau tetap berada di sana dan tak bergeming. Engkau hanya diam memandangku. Ku tak tahu harus bagaimana… kelu segala jiwaku. Engkau diam dan terus diam…, ingin rasanya ku memelukmu sekedar berbisik manja “maafkan aku sayang mengabaikanmu”. Namun semua hanya dalam pikiranku, sedikitpun bukan nyata. Aku hanya berani merangkai kata-kata maaf dalam pikiranku dan memuitiskannya menjadi kalimat lembut, sekedar berucap “maaf padamu”.
Sungguh.., kau masih saja diam dan tak berucap. Sayang, aku ingin kau sekedar bersuara melampiaskan kekesalanmu padaku. Namun waktu berlalu engkau tak berucap sedikitpun. Akupun diam di ujung sudut ruangan. Menyibukkan diri dengan hpku.., Mmmm seketika terdengar juga gumamanmu “Kok baru pulang pentingkanlah duniamu?”. Tatap matamu begitu menyentuh sisi jiwaku yang terdalam. Ah.. tiba-tiba suaramu memecah kesunyian. Kaupun berucap dengan manja “Sayang kita cari makan di luar ya?. Gimana kalau restaurant Lakeba atau duduk di Bukit Wantiro sekedar melihat cahaya bintang dan memandangi lautan’”. Mungkin orang lain berfikir cahaya bintang dimanapun dapat di lihat, ah.. melihat cahaya bintang buatmu tak biasa saat kita bersama itulah yang kau inginkan.
Kesabaranmu, telah menawanku hingga malam ini ku telah teraut dalam benang-benang asmara. Ahh… ada kah rasa cinta di hatiku padamu telah berbuih dan berbuih.., ah… sayang. Mentari bertasbih karena engkau menyanyangiku tulus, engkau mengajarkan arti sayang yang sesungguhnya menjaga, menyanyangi, mengalah, dan melindungi. Awalnya kurisih dengan itu semua, hingga malam ini ku sadari. Semua adalah bentuk dari perwujudan rasa sayang yang tulus. Kita adalah satu. Satu karena di persatukan oleh Sang Khalik, biarlah mentari bertasbih ketika kau dan aku hening dalam doa. Ah… hatiku mulai merinduimu, kebersaman yang terus buatku bertambah mencintaimu.
Upsss…, tiba-tiba ciuman sayangmu “tertumbuk di dahiku’ engkau berucap “dah shalat sayang?”. “Ayo donk jangan biarkan ku sendiri bertasbih pada_NYA”. “kita berdua bersama ya mencium sajadah cinta pada-NYA”.
Kau dan aku akan berjalan bersama menapaki jalan ah…. Andai selalu…,
Goresanku ketika memikirkan kisah-kisah kesakralan cinta dalam imajinasiku..,
Baubau, 26 Desember 2011

Sabtu, 24 Desember 2011

SEDIKIT BERKISAH TENTANG MASA LALU




BY. NANI CAHYANI
Tulisan ini kuhadirkan di pagi hari, saat aktifitasku sebagian telah kelar. Menulis menuangkan ide-ide, harapan-harapan dan mimpi-mimpi yang indah tentang masa depan. Berkisah tentang perjalanan keseharianku, sangatlah menyenangkan karena rasanya saat menulis, tentunya saya tidak merasa sendiri. Musik melankolis, romantis dan terkadang klasik menemaniku melambungkan imajinasi, dan bereinkarnasi menjadi kisah. Semua jalinan kisah pastinya selalu terlihat indah, jika bisa mengeruk-ngeruk perasaan. Jujur saya akui, Setiap karakter yang kutemui, mereka menambah keunikan ceritaku. Konsekuensi positifnya adalah khasanah perbendaharaan pengetahuan dan wawasanku “develop well”. Sungguh perasaan cinta pada makna hidup dan pengetahuan tak akan tergantikan oleh apapun.
Inspirasi tulisan ini bermula, saat saya berkunjung ke Radio Lawero 100,2 FM di kota Baubau. Kedatangan sayapun, tidaklah saya rencanakan sekedar menemani sahabat yang mengambil file photos disana. Awalnya, saya menolak ajakannya untuk pergi, karena jujur saya adalah tipikal pribadi yang pemalu jika beradaptasi lagi di tempat baru, namun memang sahabatku yang satu ini tidak pernah mau menyerah untuk meminta agar keinginannya saya ikuti.., yaaa walaupun mencoba membangun benteng penolakanku tetap juga roboh, karena usahanya yang keras membujukku. Bakatnya dalam membujuk sudah tak di ragukan lagi, namun bagiku. Dia adalah pelangi indah yang selalu disana mendengarkan kelu kesahku, mencari solusi yang menyegarkanku. Hingga saya berkesimpulan kedewasaan bukanlah hitungan angka-angka, tapi kedewasaan adalah mutlak milik mereka yang terus belajar dan tak pernah merasa puas.., yaaa seperti sosok sahabatku.
Radio Lawero adalah bagian dari masa laluku, dulunya sebelum aktif berkecimpung dengan dunia akademik. Hidupku berkutat dengan dunia broadcasting, radio dan menjadi host beberapa acara “talk show on Lawero radio”. Saat itu saya masih ingat betul bagaimana bincang-bincangku dengan manager Radio lawero yang saya dan teman-teman crew radio memanggilnya “Ayah”. Nama ini sangatlah tepat untuk sosok seorang Ayah, karena kedekatan hati dengan semua crew radio adalah prinsip seorang “Ayah”. Saya salut dengan “Ayah’ karena kejeliannya melihat semua potensi dan mengasahnya menjadi berlian yang terang benderang. Yaaa, karena dengan intensitas pencerahan-pencerahan yang tiada henti oleh Ayah, bakat-bakat muda yang penuh dengan potensi dan kecerdasan bermunculan.
Semalam saya pastinya akan rugi jika menolak ajakan sahabat untuk mengambil file Photos di studio Radio Lawero, karena moment moment keakraban, kelucuan bermula disana. Hingga putaran waktu terlewati, dengan candaan-candaan ringan, kocak dan intelek. Karena sesungguhnya ilmu pengtahuan terlahir dalam konteks-konteks casual dan bincang-bincang sederhana. Menyatukan hati dengan mereka, moment itu sangatlah kurindukan. Menimpali cerita-cerita kocak, kelucuan-kelucuan “ayah” saat mengambil gambarnya sendiri dan di ulang berkali-kali, pecah tawa kami saat itu. Tapi hal itu justru menambah rasa respect saya pada sosok “Ayah”, sederhana dan bijak itulah “ayah buatku”. Ia lebih banyak bercanda, berdiskusi tentang hidup, mengajak crew ke pantai dan menikmati alam. Saya tahu betul, ayah sangat menyukai hijau, birunya lautan dan sepoi-sepoinya angin yang berhembus di ketinggian. Itulah cara Ayah.., menjernihkan hati dan mencari pemaknaan diri. Ah.. betapa bijaknya seorang Ayah…. Sebijak namanya Ayah.
Radio Lawero bagian dari cerita masa laluku yang indah.., karena dari sanalah karakter untuk maju dan melihat media sebagai tempat, untuk mempromosikan potensi diri dan mengembangkannya dengan maksimal. Dari sanalah gerbangku menuju dunia kampus terbuka, peluang-peluang potensi diri terekspos disana. Hingga di saat ini ada satu mimpi yang teramat sangat ku inginkan. Melihat mereka, seperti melihat diriku di masa lalu. Penuh dengan asa-asa, impian-impian, ide-ide dan kegilaan-kegilaan yang identik dengan hal positif (hunting western people hehehe).
Di saat ini saya masih seperti mereka, namun dalam ruang lingkup yang berbeda. Mengexplore kemampuan dan mencintai pengetahuan. Ada bagian pieces dari impianku yang belum terwujud, tapi ku yakin semua adalah permainan waktu saja yang akan mewujudkannya. Saya dan anda semuanya tanpa sadar telah menggambarkan masa depan dengan apa yang kita lakukan dari sekarang. Tinggal bagaimana kita menorehkannya, dengan pilihan tinta dan kertas yang berbeda. Mengatasnamakan apapun hidup tidak lepas dari tiga hal yakni: masa lalu, masa kini dan masa depan. Yaa bijak lah untuk mengakui kita tak dapat mengubah masa lalu yang dapat kita lakukan hanya merubah cara pandang kita terhadap masa lalu… saya coba menulisnya dalam bahasa Inggris “you can’t change the past but you can change the way you view it”. Selalu lah belajar.., belajar dan belajar…, hingga kita semua berproses dan mendewasakan pemikiran.
Goresanku ketika sedang berada dikamar dan memandangi foto-foto yang membuka kembali kisah lamaku. For Ayah and all the crew of Lawero Radio.., Thank u so much.. untuk inspirasi tulisan ini. I love you all..,
Baubau, 24 Desember 2011

Selasa, 20 Desember 2011

WAKTU, MASA, DAN LALU JANUARI



BY. NANI CAHYANI
Lima puluh tahun, seratus tahun, dua ratus tahun, ini bukan soal hitung-hitungan masa. Kalau berumur seraksasa hitung-hitungan tahun di atas, manusia tak akan mencampai hitung-hitungan waktu sehuge itu. Tiap kali tercengang melihat agenda diary, kita selalu shock. Terkadang takjub dan merenung. Millenium datang dengan kepongahannya menyapa kita. Begitu gadget nya dunia di buatnya, segala hal serba instant. Satu dinasti ke dinasti lainnya, satu peradaban ke peradaban lainnya. Menyadarkan kita tentang pemaknaan diri yang sesungguhnya.
Setiap waktu berjalan pongah dan tak menoleh. Walau tertoreh beberapa rentetan kenangan, dalam kolektifitas masa… Desember selalunya identik dengan akhir, hingga Januari menunggu di pelatarannya. Setiap Desember akan ada kemeriahan dalam kemasannya masing-masing. Tetapi selalunya semua berujung pada satu Januari.., masa ketika membuka lembaran baru dan menorehkan seuntai untaian huruf-huruf yang berikatan dan bergandengan.
Januari yaaaa, masih jugakah engkau pongah dengan warna langitmu yang cerah, saat langit kau hias dengan bunyi… dentuman.., gegap gempita perayaan menyambutmu di setiap belahan bumi. Tak pernah terfikirkah engkau bahwa April toh adalah masa juga yang butuh untuk kau rayakan. Saat tiupan lilin kecilmu menandakan kedewasaanmu akan lahir.., tetap saja tak kau sadari dirimu semakin.. terbang menjadi dan menanak ceritamu sendiri.
Zaman sungguh terkagum-kagum…, seorang cenderung membayangkan sebuah zaman asal yang mengagumkan, yang belum cemar oleh penyelewengan. Dalam pandangan ini “kemajuan” menjadi masalah. Yang umumnya di sebut kemajuan akan di tandai dengan kehancuran, kerusakan, polusi, bahkan keruntuhan.
Tak ada batas-batas konstan tentang definisinya. Perubahan adalah “identitas”. Misalnya suatu pengkultusan, yang beraneka versi. Semisal, symbol-symbol tertentu. Dalam kemasan berupa makanan, merek, style dan sifat hakiki manusia.
Sebagai bahan pemikiran. Contoh simple Bakso, mie kuah adalah identitas orang Jawa. Prada, Hermes, Dolce Gabama adalah identitas borjuis dalam hal fashion. Tertawa, menangis, bercanda adalah identitas diri sebagai makhluk sang Khalik. Pirang, Blonde, rebonding adalah identitas diri mencari symbol-simbol tertentu menjadi labih menarik. Cerdas adalah proses waktu yang melibatkan pengalaman-pengalaman dan pencerahan yang tiada henti. Pengkultusan kita terus dari generasi ke generasi akan terus seperti itu adanya. Dihadapkan semua tradisi dan masa. Kita bungkam pada konsep masa lalu…, mestinya kita selalu arif… di setiap putaran detik, menit, dan prasasti pahatan diri yang selalu terlihat jelas,
Mmmm Apapun itu, jangalah ngotot dan pongah dengan masa, kelak kita semua akan mati… pesan untuk seluruh kehidupan..,
Kita tidak tahu pasti seberapa besar potensi kita, tapi yang pasti kita bisa lebih besar dari segala apa yang pernah kita pikirkan. Mau tahu alasannya apa?? Ya, karena manusia adalah karya agung ALLAH.
Goresanku sebelum terlelap, moga selalu… kuhadirkan diriku dalam tulisan-tulisanku.
Baubau, 20 Desember 2011

LETIH.....,



By. Nani Cahyani
Hari ini ku merasa letih, penat, bosan dan semua rasa yang menjengkelkan berbaur di hatiku menjadi satu. Bisa kah perjalananku di mengerti olehnya bahwasanya, diriku tidaklah sesempurnanya pikirannya. Ah… saya merasa letih memahamkan pemahamanku padanya yang mestinya ia pahami. Ataukah aku yang tak mengerti pemahamannya tentang artian kata pahami dalam definisinya. Ada banyak tafsiran dan makna yang mesti ku telaah hingga saat ku bisa memilah milah apa yang mestinya di dengarkan.
Sang terik pun tak peduli kalau hari ini. Ku merasa letih…, dan berdiri dengan pandangan nanar menerawang “path” kecil di tempatmu menawanku. Kita adalah dua manusia yang berbeda, seolah pekat oleh perbedaan-perbedaan. Paham pakem mu yang hendak kau torehkan pada ikrar rasa kita yang terlontar, hingga tak terlihat. Doa-doa dan asa membentur dan berlompat-lompatan diterik panas menyengat. Ah…, suara-suara berbisik-bisik terus mengaung-ngaung kencang memekakkan telinga. Andai terdengar jelas olehmu, oh…. Kuletih berucap tentang rasa. Mmm tetap saja ku letih… karena pemahamanku tak terbit jua untuk kau pahami.
Riak-riak wajahmu menyeruak dalam pelupuk mataku dan mengembara menyusuri kelopaknya. Ketika hatiku rapuh padamu, Patah dan terlepas. Ah… toh getar yang sama ku temui darinya.., Mmmm walau tak akan dekap sayangku melingkarinya. Tapi… salahkah jika hati merindu hadirnya dalam setiap tapak-tapak jejak langkahku. Melewati malam dalam gelora yang tak terungkapkan…, mungkin hanya sentuhan sepoi angin malam yang berhembus, membaca mata hatiku… Mmmm cinta sungguh memekakakkan warasku, ah…. Engkau tak akan pernah tahu.. biar semuanya ku simpan rapat-rapat, kelak kau akan sadar dengan sendirinya… bahwa cintaku padamu tak bernalar….,
Dalam kesendirian…., merasa letih. Buatmu sosok misterius pemikat hatiku…, letihku terganti oleh hadirmu…,
Baubau, 19 Desember 2011

Minggu, 18 Desember 2011

ENDING OF A STORY “SERAUT WAJAH TELAGA BIRU DI KOTA BAUBAU”



BY. NANI CAHYANI
Kebersamaan Steven dan Anna telah menjadi buah bibir pembicaraan. Keluarga Anna juga membahasnya, menurut mereka Steven bukanlah laki-laki yang tepat untuk Anna. Dengan pertimbangan perbedaan yang terlalu mencolok. Hubungan keduanya pun seperti di titik nadir. Bagi Steven perbedaan budaya adalah hal yang wajar-wajar saja, pandangan steven yang liberal dan pemikiran British yang sarat dengan logika. Membuatnya tak ambil pusing dengan semua perbedaan-perbedaan itu. Bagi Steven cinta dan rasa sayang pada Anna tak akan tergantikan dengan apapun.
Steven yang berada di kota Baubau untuk tujuan penelitiannya pun. Akhirnya memutuskan kembali kenegaranya. Namun janji dan harapan tetap terpatri, untuk kembali lagi ke kota Baubau. Menyunting kekasih hatinya, pertemuan keduanya pun di tepi telaga biru. Gemercik air telaga turut bersedu-sedu menjadi saksi kegalauan hati keduanya. Desau-desau dedaunan disekitar telaga seolah berbisik hasrat yang merindu. Mentari senjapun mengintip malu-malu di sela-sela cabang pepohonan. Seakan ingin menjadi saksi keduanya. Alam pun hening dan syahdu. Titisan paras elok, Sang Dewi jiwa lunglai… dan terhempas gusarnya. Menatap mata kekasih. Ah… telaga biru saksi cinta Steven dan Anna.
Steven memeluk erat tubuh Anna, desir jantung keduanya meronta-ronta. Ada hasrat dan gairah yang tertahankan namun bagi Steven. Anna ibarat berlian indah yang tak pernah disentuhnya, seperti menyentuh wanita-wanita eropa sebelumnya. Rasa sayangnya pada Anna adalah murni cinta dan sayang yang teramat sangat tulusnya. Rasa sayang itu bukan nafsu yang meluap luap, merindukan sentuhan hangat bibir dan menikmati indahya. Rasa itu adalah menjaga, menyayangi, melindungi, ah… inilah pasangan jiwa tulang rusuk yang hilang.
Steven pun melaepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Anna sembari berucap “, I just want you to trust me that I’ll come back to you”. “I finish my study and talk to may parents about you”. “Anna, the only thing in my life now, is you”. Iam crazy but I’m in love.. really in Love with you. “will you marry me”. Sembari bersimpuh, cara romantis yang biasanya dilakukan oleh orang-orang eropa untuk meminang wanita menjadi pendamping hidupnya. Steven mengeluarkan sebuah cincin berlian berwarna biru cahayanya berpendar menyatu dengan telaga biru. Cincin itupun melingkar manis di jari Anna. Diciumnya kening itu dan Steven pun berbisik lembut di telinga Anna “I Love you until the rest of my life”.
Tiga bulan berlalu semenjak pertemuan di telaga biru. Steven telah kembali kenegaranya. Sedang, Anna terus sibuk bekerja di bandara Betoambari. Kesibukannya cukup membantunya menlupakan Steven.. yaaa terkadang gusar, galau… semua menjadi satu. Adakah janji kan terpenuhi?. Adakah kerinduan bermuara pada pertemuan?.. semua pertanyaan ini terus mengetuk-ngetuk dan bersuara nyaring di benaknya. Mmm, The Absence makes heart grows fonder (pertemuan yang jarang akan membuat hati seakan jauh), out of sight out of mind (hilang dari mata maka akan hilang dari pikiran).
Jauh diseberang sana saat “Spring” (musim semi) bunga-bunga bermekaran. Steven baru saja menyelesaikan ujian akhirnya. Bahagia dan gelisah, mengingat kekasih hatinya yang jauh di Indonesia tepatnya di kota Baubau. Steven telah mendiskusikan pada orang tuanya tentang rencananya meminang Anna. Gadis berparas manis dan eksotis. Restu dari kedua orang tuanya pun telah di dapat. Pandangan orang tuanya, yang teramat British memberik an sepenuhnya pilihan hati Steven pada Steve. Mengambil keputusan dan menentukan hidupnya.
Akhirnya hari yang telah di tunggu, telah tiba. Steven bersama orang tua dan keluarganya, berangkat ke Indonesia. Kebahagiaan memuncak dibenak Steven.. Ah.. betapa rindunya pada Anna. Betapa derasnya dorongan hati menembus langit dan tepat jatuh menembus hati seorang perawan berparas elok, Anna.
Steven dan keluarganya pun tiba di bandara Betoambari, tapi sosok Anna tak di lihatnya. kegusaran hati melanda Steven. Oh… Anna, “Iam here for you”. Where are you?”. Pertanyaan yang di jawabnya olehnya sendiri. Secepatnya, taksi itu membawa Steven dan keluarganya di rumah sederhana Opa (pria bijak yang menemani keseharian Steven di kota Baubau). Setibanya disana steven memeluk Opa dengan erat dan memperkenalkan orang tua dan keluarganya pada Opa. “Dad and Mum, this opa. Opa this is Dad and Mum and this is my sister Jane.” And over there my uncle, Patrick and my aunt Sally”. Opa terlihat bahagia walau sedikit tak paham dengan perkenalan itu.. yaaa, benak opa berusaha keras mencari arti kata uncle and aunt.
Tanpa membuang-buang waktu, steven beranjak dan pamit pada orang tuanya. Getar hati seakan tahu dimana Anna saat ini. “Mmmm… blue lake”… She must be there “. Steven bergumam dalam hatinya.
Dengan perlahan steven, berjalan menuju telaga biru sekitar tiga ratus meter dari rumah Opa. Air telaga itu masihlah sama warnanya. Semakin membiru, membiru seperti birunya hati. Dara manis nan eksotis Asia itu, masih disana duduk dan memainkan jemarinya mengikuti irama air telaga. Steven tersenyum melihatnya. Tepat saat ia berada di belakang Anna. Steven memanggil Anna. Anna “Iam here”. Anna merasa seakan bumi yang di pijaknya bergetar keras, oleh suara lembut steven. Keduanya pun berpelukan, menumpahkan rindu yang tak tertahan. Sembari steven berucap “I come back for you coz I love you with all my heart”. “Nothing takes us apart”. I promise you”. Cincin berlian biru itu masih di jari manis Anna. Ah… semuanya masih sama.
Pernikahanpun berlangsung dengan khidmat, cinta tak berlogika, tidak marah, tidak cemburu, menyanyangi, memaafkan, menjaga, dan rela. Steven mengganti nama menjadi Yusuf Steven. Setelah melalui proses pemahaman akan indahnya Islam, ia pun memutuskan convert to Islam. Mmm indahnya cinta…,
Cerah yang indah di kota Baubau, ketika sunny day in my private room…
Baubau, 18 Desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011

SERAUT RINDU TELAGA BIRU DI KOTA BAUBAU



BY. NANI CAHYANI
Seperti biasa wanita muda itu, bekerja di depan layar computer. Memastikan penumpang pesawat yang check in, untuk penerbangan berikutnya. Bekerja di bandara merupakan hal yang menantang, karena kemampuan menguasai berbagai bahasa sangatlah penting. Bandara itu dikenal dengan nama bandara Betoambari, lokasinya berhadapan dengan Universitas Dayanu Ikhsanuddin. Private university terbesar di kota Baubau. Walaupun ada beberapa rumah penduduk yang menghalangi sisi berhadapannya. Namun tidak mengurangi nilai keindahan bandara ini yang lokasinya menghadap kelaut, sisi lain keunikan bandara ini.
Beberapa penumpang terlihat sibuk, mengangkat tas bawaan masing-masing. Ketika pesawat yang di tunggu telah tiba, terlihat juga ada peluk hangat seorang pasangan muda mungkin melepas kekasihnya, beberapa anak-anak kecil berlarian berkejar-kejaran. Sebagian penumpang yang lain disudut timur, sibuk dengan benak masing-masing. Jika pikiran mereka dapat terlihat dengan kasat mata. Pikiran-pikiran itu pastilah bergelanyut-gelanyut dan mencari bentuk dan jawabannya sendiri-sendiri.
Penantian yang panjang di bandara Betoambari, akhirnya lenyap sudah. ketika pesawat jenis Sushi Air tiba. Senyum pun mengembang, terang mata berbinar ada kerinduan seorang ibu pada anaknya, ada kerinduan kekasih yang lama di tinggalkan, ada kerinduan teman pada seorang sahabatnya, seperti “Platonic Love” (mencintai seperti saudara).
Diantara baris penumpang yang tiba, ada seorang laki-laki muda berumur kurang lebih tiga puluh tahun, yang menyolok darinya karena kulitnya yang terang. Mata berwarna agak kebiru-biruan dan ditambah dengan dagu yang terbelah dan hidung yang bangir. Menjadikannya berbeda dengan penumpang yang lainnya. Perawakannya yang berbeda dari orang lain. Dapatlah di tebak bahwa laki-laki muda itu, berasal dari negara eropa. Saat sedang berjalan, pemuda eropa itu, terlihat sibuk berbicara dengan seseorang melalui handphone. Ia berucap dengan bahasa yang sangat kental aksen Britishnya “hi, I just arrived in Baubau, let mum knows, Jane”. Nampak percakapan itu antara adik dan kakak, closing dengan kalimat “watch my car and the garden make sure, you tell mum. Iam arrived safely”, bye.., will call you back, soon when I arrived in Opa’s house”.
Laki-laki asing itupun berjalan menuju tempat beberapa petugas bandara, ia pun seperti sedang menanyakan tas bawaannya yang belum tiba. Body language menggambarkan ke petugas bandara. Dengan bahasa Inggris lumayan bisa di mengerti oleh petugas bandara. Namun sempat juga ada kebingungan dari wajahnya. Tak puas dengan penjelasan petugas bandara. Terlihat bingung petugas bandara itu pun memanggil seorang wanita, sebut saja namanya adalah, Anna. Petugas bandara memanggil Anna, “kesini sebentar, Anna”.
Anna pun bergegas menghampiri mereka, tolong dengarkan apa yang di maksud bule ini, karena aksen Inggrisnya agak susah kami mengerti. Anna pun berinisiatif bertanya pada laki-laki asing itu. Yang lagi menunduk mengambil peta Buton yang jatuh dari genggamannya. Peta itu berukuran kecil. Jarak Anna dan bule itu dekat. Hingga, saat Anna berkata “excuse me, sir!. Can I help you”. Voice itu terdengar lembut ditelinga laki-laki asing itu. Dan ia pun menengadah dan tanpa sengaja kepala laki-laki asing itu berbenturan dengan kepala Anna.., “Upsss aduh”. Anna pun sedikit kesakitan namun terlihat lucu karena orang asing tersebut berekspresi spontan dan memegang pundak Anna dan berkata “,Oh my God, Iam so sorry”. Are you alright!. Anna Nampak kikuk dan berseloroh kecil “Iam ok, sir”… Anna berusaha menunjukkan smiling facenya. Keduanya seperti membeku ketika mata beradu pandang.. telaga bening biru pemuda eropa itu, beradu pandang dengan lembut kecoklatan berwarna terang dan teduh, milik Anna. Ada rasa yang tidak biasanya mengalir menjalari keduanya.
Sadar dari keterpukaan, Anna pun berusaha mengalihkan kebekuan yang berlangsung beberapa detik itu, dengan berfikir mencari “ice breaking” yang tepat. “,What’s your name, sir?”. Oh ya, Laki-laki asing itu berkata, “Iam Steven Robertson”, dengan sedikit nervous yang tidak bisa di hilangkan dari gelagatnya. “My name is Steven”. Anna pun menimpalinya dengan berkata “What can I do for you, Mr. Steven?”. Ternyata laki-laki eropa yang di temui Anna bernama Steven. Bagi Anna nama Steven sangatlah tepat buatnya karena Anna tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada fisik sempurna Steven, perhatian yang di tujukan Steven pula pada Anna saat terjadi insiden kecil kepala mereka berbenturan, menunjukkan Steven seorang yang berhati lembut. Pikiran itu seakan berkelebat dalam benak Anna., Anna pun bergumam dalam hatinya sendiri “,ahh…. toh’ semua hanya kebetulan”.
Steven pun tak terlalu lama berbincang meninggalkan Anna, ia pun menuju taksi yang menunggu di luar bandara. Taksi itupun meluncur meninggalkan bandara Betoambari. Steven menunjukkan note kecil pada supir taksi, disitu tertera alamat rumah, JL. La Ode Boha No. 14, Kel. Lanto. Beberapa menit kemudian, Steven telah tiba di rumah Opa, Lelaki yang menyambutnya terlihat tersenyum, dan mempersilahkannya masuk kedalam. Dari garis garis wajah opa terlihat raut kebijakan dan kebaikan hatinya. Dengan Bahasa Inggris yang seadanya Opa berkata “this is your room, hope you like it”.
Steven pun beristirahat sejenak, memulihkan tubuhnya yang agak kelelahan. karena telah menempuh perjalanan jauh, England negeri jauh di eropa, Jakarta, makasar dan Baubau. Penerbangan yang cukup melelahkannya. Kedatangan Steven cukup menarik perhatian orang-orang disekitar rumah Opa. Yaaa, seorang eropa adalah semacam hal yang di anggap lebih.. walau kenyataannya anggapan ini tidaklah selamanya benar. Tapi apapun itu kita mestinya mellihat dari sisi positifnya saja. Bahwa ketertarikan pada hal yang berbau western, akan menarik rasa keingintahuan untuk mempelajari bahasa Inggris.
Menjelang sore sekitar pukul lima, saat steven duduk diberanda rumah opa, tiba-tiba matanya menangkap sesosok wajah wanita yang di temuinya di bandara, wanita itu Anna. Detik waktu seakan mempertemukan keduanya kembali. Steven merasakan hal yang tidak biasa dirasakannya, rambut berwarna hitam Anna tergerai.., Nampak identik kecantikan wanita asia yang tiada tara. Debar jantung Steven, mendera-dera saat sosok Anna berjalan mendekati Steven. Wajah keterkejutan Anna Nampak berbalut manis dengan dagu yang ibarat lebah bergantung. Tatap lembut matanya, menembus dinding hati Steven. Pemuda eropa ini mungkin telah terbiasa melihat wanita-wanita eropa. Namun sosok Anna, teramat sangat membuatnya melingkari samudera dan menyapa Firdaus dalam ruang khayalnya.
Waktu seakan berhenti sejenak menjadi bisu, oleh diam keduanya. Yaa sang cupid (dewi asmara) telah memanah hati keduanya. “Oh, Mr. Steven. What a lovely surprised to see you here!”, I have’t told you yet, my name is Anna”. Steven pun berkata. “oh.., Iam confused, actually. coz I met u in a airport then now I meet you here’. Keduanya pun nampak akrab bercerita-cerita dan sesekali pecah tawa mereka.
Detik-detik, waktupun bergulir dengan cepatnya, mula-mula ia menyedapkan pandang hanya karena parasnya, hingga kemutlakan cinta menyapa hati keduanya, terbawa pada kedekatan hati. Sebulan telah berlalu tiba, steven pun harus kembali ke negaranya nun jauh disana… England. Akan ada hati yang terluka atau kisah ini hanya seperti penggalan kisah dongeng buat keduanya, entahlah…, akan ada hati yg tersakiti, merindukan, dan menangis dalam diam. Mmmm, bagaimanapun detik itu akan terampas paksa dari keduanya…, atau permainan takdir menyatukan mereka…, (bersambung)
Baubau, 17 Desember 2011

Jumat, 16 Desember 2011

ANGKUH, NAMUN CERDAS DAN MENYENANGKAN



BY. NANI CAHYANI
Sumber tulisan dan ispirasi buat menulis datang dari berbagai lintas pergaulan. Yaaa seperti halnya bincang-bincang pinggiran adalah diskusi yang mengkritisi sisi lain dari hidup. Hidup adalah ibaratnya dua sisi mata uang yang tak bertemu. Saat kau ingin menjadi baik maka kau akan baik, namun jika kau ingin menjadikan terbalik… yaaa itulah pilihan. Mmmm life is a choice.
Saya coba menggaris bawahi kata “choice”, yang dalam bahasa Indonesia artinya pilihan. Definisi kata ini, biarlah saya coba paparkan. Sesuai level kemampuanku mencerna makna. Pilihan berarti kita di hadapkan dengan keinginan-keinginan, keinginan berarti dorongan hasrat untuk menjadi. Menjadi adalah proses pencarian karakter dan pencarian karakter adalah pembuktian diri menjadi aku. Aku adalah jiwa dan akhirnya jiwa adalah permainan kata-kata phsychological’s expert, yang menyimpulkan karakter dasar diri dalam tiga ranah yakni “ego, id dan superego”.
Saya tidak ingin terlalu jauh membahas tentang “ego, id, dan superego”. Tapi sumber tulisan ini adalah sesosok sahabat yang telah lama kukenal. Namun terpisah beberapa tahun kemudian, hingga permainan takdir mempertemukan kami lagi. Dalam konteks level yang berbeda, namun terkoneksi erat. Perjalanan waktu membawaku, menjadi saksi kisahya yang hampirlah mirip diriku. Dia penuh dengan ide-ide, khayalan-khayalan, impian-impian tentang masa depan yang indah. Ada keyakinan, kegilaan, kesedihan, keangkuhan namun cerdas dan menyenangkan.
Sosoknya buatku adalah misteri, terkadang bingung ku menjabarkannya. Mungkin dia terlalu memberiku teka-teki yang harus ku jawab sendiri. Hari dan waktu kuhabiskan bersamanya, yaaa sebelum langkahku berhenti dalam pengembaraan terakhirku menjadi tak sendiri lagi. Sosok itu berjanji kan membuktikan suatu hal yang butuh ku akui, mmmm menjadi angkuh dimataku. Angkuh dalam artian yang positif. Mewujudkan inginnya, akan masa depan yang cemerlang, kan diraihnya. Sayapun tak kalah berjanji membuktikan hal yang akan kuraih dalam rentang waktu setahun ini. Kisah kami hampir mirip dengan lagu “Sheila on seven” sedikit lyricsnya seperti ini:
Sahabat Sejatiku
Hilangkah Dari Ingatanmu
Di Hari Kita Saling Berbagi
Dengan Kotak Sejuta Mimpi
Aku Datang Menghampirimu
Kuperlihat Semua Hartaku
Kita S'lalu Berpendapat
Kita Ini Yang Terhebat
Ku S'lalu Membanggakanmu
Kaupun S'lalu Menyanjungku
Aku Dan Kamu Darah Abadi
Demi Bermain Bersama
Kita Duakan Segalanya
Pegang Pundakku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Mulai Lelah?
Lelah Dan Tak Bersinar
Remas Sayapku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Ingin Terbang?Terbang Meninggalkanmu
Tak Pernah Kita Pikirkan
Ujung Perjalanan Ini
Tak Usah Kita Pikirkan
Ujung perjalanan ini
Dan tak usah kita pikirkan
Ujung perjalanan ini


Lyrics lagu Sheila on Seven, merepresentativekan plot ending story ini. Ah… sosok itu, buatku angkuh, namun cerdas dan sangat menyenangkan. Kurindu hadirnya saat ia tak ada, ia buatku melihat dunia dari kaca mata yang berbeda, ia tanpa sadar telah memberiku pencerahan tentang impian indah dimasa depan, ia mengajarkanku pengetahuan tentang nilai persahabatan yang tak melulu tentang persaingan untuk saling menjatuhkan, namun tentang “being yourself, fighting for your dream, and being a lovely person”. Saya pun menatap kerlap kerlip andromeda seperti mencari makna ucapannya tentang janji untuk pembuktian diri setahun lagi.
Mmmm sosok itu kukemas dalam ingatanku. Hingga Ingatan itu menjadi kenangan, kenangan seperti wajah masa yang di lukis diatas pasir putih. Namun, ia kokoh menyatu dalam pilar-pilar kolektif yang terangkum dalam peradaban. Hingga akhirnya…., ia bermuara pada kekal menulis langit dengan goresannya.
Sahabat bermimpilah…., teruslah… berdoa dan berusaha karena saat potensi dan upaya termaksimalkan maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi dan bersepakat mewujudkannya…, semoga……..,
Tulisan singkat ini teruntuk buatmu, sosok yang membuat jalinan waktu terasa kumiliki sepenuhnya. Engkau adalah angkuh, cerdas, dan menyenangkan.
Baubau, 16 Desember 2011

Rabu, 14 Desember 2011

CINTA DAN SECANGKIR TEH



BY. NANI CAHYANI
Hari itu mendung, langit terlihat seperti bermuram durja diliputi kesedihan. Siklus Alam kadang-kadang terlihat seperti misteri. Tak dapat ditebak, dan tak dapat direka-reka. Saat wajah bumi terlihat gelap dan sedih, seketika hujanpun seperti ditumpahkan dari langit. Susul menyusul suara guntur menggelegar, petir menyambar terlihat seperti alam berbincang dengan caranya sendiri. Proses terjadinya kilat, guntur dan halilintar adalah cara langit memproses air hujan menjadi sangat steril. Sedikit complicated pandangan ini. Tapi toh benar adanya, alam punya cara sendiri untuk berekspresi terkadang merusak, itulah siklus alam bermetamorfosis. Seperti juga halnya kita butuh berbuat salah dulu untuk menjadi benar, beradu argumen dulu untuk bertemu pada satu kesepahaman, merangkak dulu baru tegap berdiri dan kemudian berdiam diri untuk merenungi pemaknaan diri yang hakiki.
Yaa, semua itu pikiran yang bergelayut dibenakku saat lagi berteduh dibawah sebuah kedai kecil dipinggiran kota Baubau. Kedai itu mungil dan sangat sederhana, seperti tak acuh oleh restauran-restauran yang agak angkuh disampingnya. Saat lagi berteduh dari hujan deras yang menghentikan aktifitasku kekampus untuk mengajar. Kedai sederhana ini adalah palace yang teramat megahnya, karena memberiku tempat berlindung serta kenyamanan. Didepan kedai ini ada dua buah kursi yang saling berhadapan. Sayapun duduk sambil sesekali menyeka wajahku yang terkena “drizzling” sebelum menjadi “heavy rain”.
Rintik hujan yang mengenai atap kedai itu nyaring bersahut-sahutan, mereka seperti bubles kecil, bergelinding-gelinding ibarat anak kecil yang berayun-ayun kegirangan. Mmmm bagiku nyanyian biduan suara alam ini sangatlah sempurna. drizzling itu seakan berdesau desau berbisik manja dan berceracau menjadi harmoni indah.
Walau awalnya gelap, tapi tetaplah syahdu. Bukannya gelap selalu bertemu dengan fajar akhirnya. Fajar setelahnya adalah mentari yang bercahaya tunggal dan lama. Cahayanya terkadang menyenangkan namun kadang kala menjemukkan saat teriknya menembus kulit.
Lamunanku tiba-tiba buyar oleh sapaan seseorang laki-laki yang terlihat berumur setengah baya dan wanita disampingnya nampak raut-raut wajahnya yang telah termakan sengit oleh masa. Dari dalam kedai, mereka menyapaku. “De’ mau kemana?. Sambil tersenyum simpul padaku?”. Akupun menjawabnya dengan menunjukkan rasa hormatku pada mereka, dan sambil sedikit tersenyum “mau kekampus pak?”. Keduanyapun seperti serempak bersuara “oh…. Mahasiswa Unidayan ya?”. Rasanya saya ingin menyembunyikan identitasku pada mereka, tapi pandangan mata mereka terlalu suci. Sayapun menjawab “ saya tenaga pengajar di Unidayan pak”. Pasangan ibu, bapak setengah baya itupun seperti terlihat surprised dan menimpali “Oh.. dosen ya?”. Dengan kikuk dan bingung sayapun menjawabnya “Alhamdulillah iya pak”. Jujur saya tidak menyalahkan pandangan mata mereka karena mungkin postur tubuhku yang rata-rata awam orang timur, sedikit narsis mungil hehehe ataupun mungkin karena memakai jeans berwarna hitam dan baju kemeja merah maron sedikit memanjang. Dipadukan dengan jilbab berwarna merah maron dan bercorak warna bunga yang merekah. Sempurnalah diriku terlihat seperti mahasiswa.
Hujan seperti tak berkompromi hari itu, saya seperti sudah ditakdirkan berada dikedai itu berlama-lama. Wanita setengah baya itupun keluar dan menyodorkanku secangkir teh panas, aroma teh itu wangi seperti memenuhi kepalaku. Mmmm sambil berkata “duh ibu tidak usah repot-repot, saya sudah berteduh dibuatkan teh pula”. Ibu itu pun menjawab dengan ketulusannya: “cuaca dingin de’. Secangkir teh ini akan menghangatkanmu”. Sayapun menjawabnya “terima kasih ibu”. Suami dari ibu berumur setengah baya itupun tak kalah serunya dari dalam kedai bersuara. “de’ awalnya bapak jatuh cinta sama isteri bapak karena secangkir tehnya”. Oh ya… Pak” bisa ceritakan, (sambil memperbaiki posisi dudukku dan siap mendengarnya). Saya sangat tertarik mendengarnya, karena yang berhubungan dengan cinta selalu menarik buat disimak.
Bapak itupun memulai ceritanya, “lima puluh dua tahun yang lalu di desaku, bapak bertandang kerumah seorang kawan. Saat lagi menunggu kawanku yang mengambil sekantong jambu mete yang sudah djanjikan padaku. Tiba-tiba ada wanita yang teramat sangat cantik membawakanku secangkir teh. Darahku seperti berhenti berdesir (sambil tertawa bapak itu bercerita, matanya menengadah seperti mengumpulkan pieces alur ceritanya). Wanita itu adalah adik kawanku, yang sekarang menjadi isteri bapak “gumamnya”. “Yaa mantan pacar bapaklah" (Sayapun ikut tertawa). Dan berucap, “terus pak?”. “Terus…..”, bapak itupun becerita lagi. Secangkir teh itu beraroma wangi dan seteguk dua tegukpun kureguk mmm rasanya khas dan lain sekali. Tahu tidak de’ kenapa rasanya lain. Sayapun dengan kebingungan menjawab “tidak pak?”. Begini de’ jawabannya singkat karena teh itu diseduh dengan ramuan hati dan cinta melebur serta menyatu didalamnya. Sambil menjelaskan bapak itu tersenyum. Mmmm jawaban yang sederhana sekali tapi meaningful. Kembali cerita bapak dilanjutkan lagi, “setiap pagi secangkir teh dari isteriku tersayang, membuatku semakin sayang padanya. Secangkir teh itu menemaniku setiap harinya”. Sambil tersenyum manja isteri bapak itu mengangguk.
Mmmm saya pun paham secangkir teh adalah symbol sayang, diantara keduanya. Cinta.., cinta.., cinta…, aneh memang dia datang dalam berbagai versi dan rupa. Bentuknya abstract dan untouchable. Sungguh weird.., setiap peradaban selalu diwarnai dengan kisah cinta, sebut saja, William Shakespeare dengan Romeo dan Julietnya , Taj mahal Prasti pahatan kemegahan cinta, Cinta tak bernalar seorang Adolf Hitler yang mati dibunker bersama kekasih hatinya, Cinta Ken Arok pada Ken Dedes yang teramat jelita, Cinta Syamsul Bahri pada Siti Nurbaya, dan cinta seorang Napoleon kepada Cleopatra. Sungguh cinta angkuh dengan semua definisinya, Kahlil Gibran menggambarkan cinta adalah “Flower that is only blossoms and grows without the aid of the seasons”. William Shakespeare mendefinisikan “Love is a Rose, Rose is A Love, Love is Rose”.
Sayapun coba menyimpulkan dengan bahasaku sendiri ‘cinta adalah masa yang berwarna, mewangi dan bertumbuh ditempat yang suci, yakni HATI. Angan dan asa menggapai samudera meluluh lantahkannya ketika cinta menyapa karang, menelusuri semua tepian wajah bumi, berlarian cahaya pelangi mengitarinya, tersilau mata oleh selarik cahaya menembus kalbu, merasuki jiwa yang lara merindu dikala hati berbaur dengan hasrat dan gairah limitlessly. Ahhh… definisi cintaku adalah puisi dan menuliskannya dalam goresan-goresan pieces waktu yang berkejaran.

Upss sayapun pamit pada pasangan separuh baya itu, dikarenakan hujan telah reda. Terima kasihku pada mereka yang telah menemaniku dengan cerita-ceritanya. Mmmm…. kedai itu, sungguh sederhana. Namun penuh dengan cinta tulus yang tak identik dengan nafsu. Secangkir teh adalah symbol cinta tulus keduanya. Ada banyak cerita-cerita lagi yang akan kudengarkan diperjalananku.., saya berterima kasih pada keduanya mau berbagi cerita kisah cinta dan secangkir teh.
Terima kasih teruntuk sahabat yang tak mau disebutkan namanya, sudah mengedit gambarnya.
Cerita ini berawal ketika berteduh dari lebatnya guyuran hujan.
Baubau, 14 Desember 2011

Minggu, 11 Desember 2011

TAK TERPEJAM, PIKIRAN MENEMBUS BATAS CAKRAWALA



BY. NANI CAHYANI
Entah mengapa malam ini, saya tak dapat terpejam. Coba pejamkan mata tetap saja tak bisa tertidur. Pikiranku mengembara sejauh-jauhnya. Ada banyak cerita hari ini yang kulalui, mulai sejak pagi hari. Kegiatan rutinku adalah mengajar, memotivasi siswa untuk mencintai pengetahuan. Setiap kejadian hari ini seperti bermain-main dibenakku hilir mudik, lalu lalang dan bercengkrama dalam ingatanku.
Saya teringat saat lagi dikampus, saat lagi berkumpul bersama rekan-rekan dosen, mereka adalah Pak Bahar dan Ibu Neti saling bertukar cerita masing-masing. Pak Bahar bercerita hari itu, dia merasa kurang fit karena banyaknya rutinitas, Ibu Neti tak kalah serunya bercerita bahwa saat ini dia juga merasa agak sumpek dengan aktifitasnya yang lumayan bejibun juga. Sayapun tak mau ketinggalan menimpali mereka sudah dua hari ini saya memberi ujian mid speaking dan mewawancara mahasiswa satu persatu-persatu. Kami saling menumpahkan unek-unek masing-masing. Sangat mengasyikkan karena ternyata saat berbagi cerita bersama mereka terasa kedekatan dan keakraban terjalin dengan sendirinya, walaupun yang diceritakan yaa terkesan seperti sesi curhat hehehe.
Agak lama menghabiskan waktu di laboratorium bahasa, sayapun memutuskan untuk pulang kerumah, karena jam dua siang saya kembali lagi kekampus. Tetap dengan schedule yang sama memberi ujian mid Speaking II kelas B dan C semester tiga. Saat melewati satu persatu anak tangga. Tiba-tiba ada yang menarik perhatianku, orasi mahasiswa entahlah apa yang mereka bahas. Memakai alat pembesar suara tentulah suara mereka terdengar kesemua sudut kampus. Buatku orasi dan menyampaikan aspirasi adalah hal yang wajar dan manusiawi. Pertanda ada proses pemikiran yang mulai terkritisi oleh pemikiran intelek yang elegant.
Dalam reformasipun peran mahasiswa, teramat sangat penting. Mereka selalu berada dilini depan perubahan bangsa. Mulai dari era Presiden Soekarno hingga tahun 1998 krisis ekonomi yang menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru. Sejarah selalu mencatat dengan tinta emas pemuda adalah tokoh sentral perubahan “huge” bangsa. Teringat ungkapan Raja Dangdut, Rhoma Irama. “Darah Muda Darahnya Para Pemuda”, ucapan Presiden Soekarno “Berikan aku sepuluh pemuda dan aku akan merubah dunia” lebih kurangnya seperti itu. Mohon maaf jika ada kesalahan mengutip ucapan mereka. Dalam skala nasional peranan pemuda/mahasiswa Nampak jelas, demikian halnya pula dalam skala internasional pergolakan di Libya, Tunisia, Mesir dan beberapa Negara-negara lainnya berawal dari pergerakan pemuda.
Memandangi dan mendengar sepintas orasi mahasiswa, sambil bersiap-siap melaju pulang kerumah, ditemani Jupiter Z yang setia menemaniku selalu. Saya berfikir kembali betapa mahasiswa/pemuda ini kelak akan menoreh cerita hidupnya dan terbingkai dengan indahnya, kelak dimasa depan mereka akan bangga bercerita pada generasi selanjutnya. Memberikan tongkat estafet pada yang akan memulai garis start yang baru. Saya salut pada semangat mereka untuk menjadi penyambung lidah pengharapan masyarakat akan keadilan yang tercerahkan. Sempat sedikit mengutip sedikit ucapan mereka “jangan sampai ada gayus gayus kecil lahir di negeri ini”. Pilihan kata yang cukup menarik. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikan moment tersebut, untuk menjadi tampilan gambar artikel ini. Tapi tak mengapalah mengambil gambar dari searching machine dan menjadikan tampilan foto utama artikel singkatku ini. Rintik hujan menemaniku, sayapun melintasi sekumpulan mahasiswa-mahasiswa itu. Uupss hujan membuat segala bumi menjadi basah olehnya, saya sangat menikmatinya. Karena hujan mengingatkanku pada saat kecil. Berlarian dan bernyanyi nyanyi kecil “mandi hujan… mandi hujan…’’ mmmm indahnya masa itu. Tak ada beban dan tanggung jawab.
Tanganku terus menekan tuts tuts laptopku, ide-ide, kisah-kisah mengalir. Terus kutulis.. tak sadar malam sudah larut. Namun ide-ideku terus membuih dalam CPU ku yang kusebut Brain. Acer, laptop sederhana ini menjadi saksi-saksi cerita-cerita yang kutulis. Acerku menemaniku dalam perjalanan waktuku… selalu. Kutunggu selalu kapan inspirasi menulis menghadirkanku pada dunia yang penuh dengan huruf-huruf, jalinan waktu yang berikatan, dunia yang hanya kumiliki sendiri saat lagi menulis. Berbincang-bincang melewati batas peradaban, seolah-olah bertemu dan berdiskusi dengan ilmuwan Socrates, Duduk dalam singasana Sang maestro puisi “Kahlil Gibran”, takjub dengan roman romantis “William Shakespeare” ahh… sungguh pengetahuan menajamkan mata hati dan batinku. Semoga selalu tercerahkan. Hingga inspirasi terus mengalir bermuara pada rasa haus untuk terus mereguk intisari pengetahuan, membaca semesta yang megah, hingga menyibak tabir pengetahuan. Semoga…..,
Sang Khalik teduhkanlah jiwaku.
My Private room, goresanku saat mata tak terpejam.
Baubau, 11 Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

BERDIALOG DENGAN HATI, NALAR DAN SELF IMAGE



BY. NANI CAHYANI
Mencari dan memaknai hari-hari dengan keyakinan dan keikhlasan, tidaklah mudah adanya. Menapaki tiap tapak-tapak jalanan yang berdebu, membuka tiap chapter hidup, berjalan dan tak menoleh pada kelam masa lalu, mmmm seperti itulah adanya ketika tak mengharap yang nyata menjadi kabur dan buram. Terpapar dengan jelas tawa, canda, gurauan yang buat setiap insan selalu merindu setiap moment kebersamaan, speechless jika hati dan nalar tak beriringan. Sendiri terkadang tak selalu terlihat sendiri karena dialog hati, nalar dan self image bergelut dalam hentakan. Ego, dengan lantang dan berserempak. Self image menjadi hantu yang menghantui akal sehat yang terpenjara.
Mmmm selalu seperti itu adanya, berputar dan mencari self identity ditengah pusaran hiruk pikuk, lalu lalang, dan kebingungan ditengah keramaian. Berdiam diri dan berdialog dengan hati sangat mengasyikkan karena terasa dunia adalah satu kesatuan yang menyatu dengan diri. Membesarkan pikiran dan tidak mengerdilkan diri, sangatlah bijaksana. Semua pemikiran ini lahir dalam ruangan saat berdiam dan mempersiapkan benakku dengan pertanyaan-pertanyaan, yang terlihat sederhana namun butuh pemahaman.
Menikmati setiap aktifitas penat, memang rasanya. Tapi ada cerita disana, yang buatku merasa sangat beruntung karena toh mendengarkan cerita-cerita orang lain, buatku kaya akan perbendaharaan cerita hidup yang berwarna. Menjadi bijaksana tidaklah mudah ada proses yang melalui ruang, waktu, pengalaman, dan pendewasaan pikiran. Setiap tapak-tapak jalan bolehlah berubah saat terlewati namun tidaklah demikian adanya hati, selalunya hati tak mau kompromi dengan nalar, toh hati melingkari pemikiran hingga lingkar sayang akan mendekapmu ego, dan self imagemu.
Pekerjaan dan aktifitas keseharian dua hal yang terus ada selagi hembusan nafas masih terus ada, dan detak jantung masih berdetak, mmm kecintaan pada satu hal jika diikuti oleh hati pastilah terbawa dan menyatu dengan jiwa, cerita ini sama adanya ketika dokter memeriksa detak jantung seorang pasien yang tidak sadarkan diri, dengan menggunakkan steteskop didengarnya detak jantung pasien itu lirih bergumam Asma-NYA terus seperti itu adanya, itulah kecintaan yang mengalir dengan indahnya. Kecintaan Ken Arok pada Ken Dedes yang elok rupa tiada tara buatnya melakukan apa saja mmm sungguh hati yang tak bernalar, kecintaan ibaratnya rasa addictive akan hal yang tak terbendung oleh apapun. Mengatasnamakan apapun itu tetaplah hati tempat luas rasa sayang yang hanya ditempati oleh semua yang terkasih.
Menaklukan hati dan berdamai dengan nalar dan logika tidaklah semudah yang dibayangkan, karena tetaplah ada self image sebagai dinding kokoh, tegap dan disitu terlihat ketegaran diri. Meski sesungguhnya weak.., kurindu saat aku menjadi aku dan dirimu menjadi dirimu, bisakah terlihat seperti itu adanya setiap saat.
Siapa dirimu, tanpa berbicarapun lihatlah siapa kawanmu karena dia adalah representative dirimu secara keseluruhan. Tak mungkin seiring sejalan jika tak ada kecocokkan butuh kesepahaman untuk berdiam dan bertemu pada satu titik pandang yang sama. Mata adalah jendela jiwa mewakili perasaan, dan bahasa kalbu. Ahh…andai kau tahu aku berdialog dengan hati, nalar dan self imageku, tapi tetap saja pesonamu terlalu kuat melumpuhkanku. nalar terlalu elegant jika tak ada self image yang arrogant. Mmmmm tak tahulah kutujukan semua pada hatimu jika kau bisa memahami tulisan ini.
Goresanku dalam kesendirian,
My private room. Baubau, 8 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

PENAT…, TAPI TAK MENGAPALAH KARENA ITULAH KEINDAHAN-NYA



BY. NANI CAHYANI
Penat juga rasanya hari ini, karena semenjak kemarin aku berjibaku dengan berkas-berkas isian dosen yang deadline pengumpulannya hari ini. Ada hal yang menarik dari aktifitas ku hari ini. Betapa ketika pekerjaan diberikan pada yang ahlinya, maka semua akan berjalan dengan mudahnya dan finish pada saat yang diinginkan. Saat kekantor dan bertemu rekan-rekan dosen, ada banyak canda yang tercipta. Terkadang menggelitik juga, umumnya publik mungkin beranggapan seorang dosen selalu terlihat serius dan menjaga image. Namun sebenarnya anggapan ini tidaklah selalu benar, karena sifat kekanak kanakan terkadang di butuhkan dalam konteks yang berbeda.
Diskusi-diskusi saat rehat di kantor, biasanya adalah hal-hal yang menyangkut masalah kependidikan atau akademik. Bagiku cukup menarik saat mendengarkan penjelasan dosen senior tentang masalah kurikulum atau aturan-aturan akademik yang terkritisi oleh pandangan mereka. Saat duduk dan mendengarkan bukanlah pekerjaan yang sia-sia karena justru nalarku berusaha untuk memahami, dan terus berproses untuk belajar.
Tiap karakter individu adalah keunikan tersendiri buatku, pelabelan atau apapun istilah yang kita buat untuk menjustifikasi karakter dari tiap individu, mungkin adalah kesalahan fatal saat kita tidak melihat dari sisi yang berbeda. Istilah pelabelan negatif yang cukup familiar adalah “stereotype” atau mungkin “xenophobia”. Definisi Stereotype dalam Collins Cobuild dictionary adalah “a fixed general image or set of characteristics that a lot of people believe represent a particular type of a person or thing”, sedangkan xenophobia adalah “strong and unreasonable dislike or fear of people from other countries” yang artinya secara umum tampilan pemikiran yang telah terset bahwa satu komunitas, biasanya mewakili sifat setiap karakter atau rasa benci pada satu komunitas yang mengakar.
Masyarakat akademik biasanya, memiliki pola pikir yang intelek dan berpandangan luas kedepan, mereka selalu memiliki visi dan misi yang cemerlang dengan memberikan argumen-argumen yang logicable saat berdiskusi, biasanya references dan sumber data menjadi patokan. Tepatlah kiranya akademisi selalu berpatokan pada pandangan ilmiah dan teori para ahli yang telah terbukti valid karena melalui proses pemikiran dan pembuktian ide yang intelek.
Karakter yang berbeda-beda bagiku adalah suatu keunikan tersendiri. Didalamnya ada proses pembelajaran, penerimaan pada tiap karakter. Penghargaan atas hasil yang telah dicapai. Pemikiran mngkin belumlah terlalu matang karena belum terdewasakan oleh waktu, dan pengalaman. Terkadang diam dan menjadi pendengar setia, cukup megasyikkan yaaa long term memoriku berusaha untuk mensavenya dalam fileku yang kusebut dengan brain. Tidak ada batasan giga byte untuk menyimpan file dalam CPu yang disebut dengan brain, ciptaan sang Khalik adalah Kesempurnaan.
Teringat perbincanganku dengan kakakku yang sekarang sedang menyelesaikan studinya pada fakultas kedokteran UNHAS.., kakakku selalu berucap “tanpa kau sadari kau telah menggambar masa depanmu”. Dulu statement ini sedikit membingungkan buatku namun kini aku paham, kakakku sedang memberiku suatu pencerahan pemikiran yang tercerahkan oleh ide-ide untuk menjadi kreatif dengan menuju altar firdaus pngetahuan.
Menjadi dosen dan mengajar di Universitas bagian dari impianku sejak kuliah, namun tak pernah terlintas sedikitpun, bahwa tangan Tuhan mewujudkan mimpi-mimpi itu. Setiap proses perkuliahan kunikmati dengan indah, karena buatku saat itu. Beban adalah hal yang terindah jika kita menikmati tiap intisari keindahannya, seperti kutipan dalam Lasykar Pelangi karya Andrea Hirata “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”.
“Personal Branding” tidaklah dengan mudah tercipta tapi butuh proses menuju kearah itu, dengan terus meningkatkan kualitas dan kemampuan penalaran yang bagus, selalu peka dengan keadaan sekeliling dan fokus pada memanusiakan kemanusiaan, melihat anak didik sebagai pribadi yang unik dan mencintai mereka dengan hati, tidak menilai mereka dari nilainya atau penampilan presentasi didepan kelas tetapi respondlah pada kecintaan dan ketertarikan mereka pada ilmu pengetahuan. Serta kemandirian mereka untuk berusaha menghadapi riak-riak hidup yang tidaklah mudah.
Mmmm ketika salah tidaklah mengapa toh salah membuat orang belajar untuk lebih baik, ketika takut tak mengapalah justru, membuat kita menghimpun kekuatan untuk menjadi kuat. Ketika sedih justru air mata akan mencairkan kekerasan jiwa, ketika mencintai justru kita belajar memaknai keindahan anugerah-NYA, Ketika benar janganlah terlalu merasa benar karena keselfishan mungkin akan muncul. Ketika jatuh ada banyak cinta disekelilingmu yang akan menyadarkanmu, bahwa ada banyak cinta dan perhatian yang dulu kau abaikan. Belajar menerima segala perbedaan dan mencintai perbedaan itu seperti pelangi yang terlihat indah karena banyaknya warna-warna yang berbeda. Refleksi lautan tempat terendah dimuka bumi menerima air hujan, air sungai, selokan semua bermuara pada lautan, toh dengan kerendahannya dan keikhlasannya menerima. Lautan menjadi teramat sangat megahnya berpendar warna kebiruan yang teramat sangat indah. Andai… kita selalu tercerahkan…, semoga.
Goresanku saat lagi penat dikamar.
Baubau, 7 Desember 2011