Selasa, 30 September 2008

Indahnya Waktu....



Selalu terbatas kuasa kita melawan waktu, putaran waktu tak sedetikpun sanggup atau pernah kita taklukkan. Waktu ialah kekuatan yang meleburkan, mematahkan kekuatan yang lain, namun juga sanggup menumbuh mekarkan hal yang tak terduga. Ambil contoh apa saja, niscaya patah saat digerogoti waktu; apa saja menjadi kehilangan daya di hadapan sang waktu. Pun sebaliknya.

Tuhan sungguh Luar Biasa Maha Cerdas, telah mencipta waktu. Dalam Quran, bahkan Allah bersumpah atas nama waktu Al-Ashr, Demi Masa. Imam Syafii pernah berkata bahwa sekiranya saja Allah tak menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, maka cukuplah saja bagi Allah untuk menurunkan 3 ayat dalam surah Al-Ashr sebagai petunjuk bagi manusia.
Jika saja kita sedikit merenungi; bahwa detik-detik yang lewat bukan berhenti sebatas detik saja, namun ialah perlambang dari gerak semesta yang terus-menerus berubah, semesta mikro hingga ke tingkat sub atom, melesat hingga semesta makro; matahari, lintasan planet, galaksi..dsb.
Apa sih yang tidak mengalami perubahan, semuanya berubah dalam lintasan waktu tertentu. Seperti saksi; waktu menandai cita-cita, harapan, sedih dan gembira kita, bermain-main dengan waktu berarti merelakan sebahagian bahagia kita direnggut paksa dari kesadaran kita yang penuh penghayatan, setuju ataupun tidak.
Ramadhan hari ini usai, tentu dalam penggalan 1429 H, kita berharap dalam doa yang gempita, semoga Ramadhan-Ramadhan nanti, akan terus menyambangi kita, menjelma sebagai madrasah bagi nurani ini, mengalir sebagai air kesabaran yang mengguyur ambisi dan serakah kita.
Tentu Idul Fitri yang hadir di puncak Ramadhan, kita harapkan akan hadir sebagai momen penyucian jiwa, terlahir kembali, barangkali agak naïf bila kita mengklaim kita telah suci dari dosa, sebab itu adalah wewenang Allah yang Maha Pengasih. Kita Cuma ingin belajar berharap; bahwa dalam teduhnya Idul Fitri, sebuah cara pandang baru terlahir, cara pandang betapa kita tak akan lepas dari dosa dan kesalahan, namun kita juga sadar kekuatan kita terletak dalam pada anugerah, hidayah dan ampunan Allah SWT yang tiada berpenghabisan.. terus dan terus.. Allah Maha Rahman..Maha Rahim
SELAMAT IDUL FITRI 1429 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Sabtu, 27 September 2008

La Ode Boha


Mungkin bila dilakukan survey kecil-kecilan pada masyarakat Kota Bau-Bau, apakah yang ada dalam pikiran mereka ketika disebut kata La Ode Boha?
Hasilnya kira-kira bahwa La Ode Boha adalah daerah “rawan”, texas, orang mesti berhati-hati saat melewati wilayah itu. Singkatnya Jalan La Ode Boha menjadi pertanda dari sekelompok anak muda yang ‘temperamen’, dengan solidaritas kelompok yang lumayan kohesif sebagai cara menjalani hidup. Gambaran seperti itu muncul, tak sepenuhnya keliru; itu jika kita meneropong sejumlah ‘peristiwa kekerasan’ yang terjadi di sekitar jalan ini atau paling tidak melibatkan anak-anak La Ode Boha. Bahkan ada yang mempelesetkan La Ode Boha sebagai ’Koboha’(berdentum keras).
Di zaman orde baru, jalan ini rusak parah, pada ujung jalan terdapat kubangan besar yang di musim penghujan, akan menjelma seperti kolam renang buatan bagi anak-anak, yang berisi air comberan. Di masa Walikota sekarang, baru terlihat perbaikan fisik yang berarti.
Kalau tak salah, Jalan La Ode Boha mulai ramai dengan rumah sekitar tahun 80-an, menurut penuturan kakek, dahulunya hanya ada beberapa rumah yang bisa dihitung jari berada di jalan ini, sekitar tahun 1975-an, barangkali tak lebih dari 8 rumah, sisanya menjadi kebun jagung dan ubi bagi warga yang berminat mengolah tanah.
La ode Boha perlahan menjadi padat di tahun 1990-an, dan sejumlah peristiwa yang terjadi di La Ode Boha, seingat penulis berlangsung antara tahun 80 hingga 90-an.
Selepas tahun 2000, tetap ada gesekan-gesekan, hanya saja belum semasif tahun-tahun sebelumnya. Memang sih, tetap dijumpai juga sederet letupan dalam interaksi anak-anak La Ode Boha baik sesamanya maupun dengan anak muda dari area lain, namun kesannya sedikit terkendali. Boleh jadi karena secara sosiologis telah terjadi pergeseran, dimana anak-anak muda yang dahulunya menjadi ‘pemain’ utama, telah menikah, punya anak, bekerja dan melakoni peran-peran tertentu sebagai anggota masyarakat secara wajar. Saya pikir, pada kasus La Ode Boha, tak terjadi pewarisan sifat kolektif dari anak muda terdahulu kepada yang baru,yang ada mungkin beberapa anak muda yang sedang mencari identitas, menoreh tafsir atas gejala sosial dan mencoba menempatkan diri dalam pola pergaulan dengan masyarakat sekitar.
Kita tak ingin jatuh pada pengecaman berlebihan atau menyalahkan tanpa solusi. Jika sekiranya mereka dapat diberdayakan pada kegiatan yang sesuai dengan minat, dorongan sosiopsikologis sesuai umurnya, dengan tetap mempertimbangkan persoalan kultural, dalam arti; memberi tempat bagi kreatifitas anak muda di tengah Kota Bau-Bau yang tengah berubah menjadi lebih maju dan beradab. Formula seperti itu sepatutnya dipromosikan dan dipraktekkan; itu jika kita ingin berbuat adil bagi masa depan kampung tercinta dan generasi muda.

Kamis, 25 September 2008

B e l a n j a





Berkunjung ke pasar mana saja menjelang hari raya; baik pasar tradisional maupun ke swalayan-swalayan modern, akan ditemui pemandangan yang berbeda dari biasa. Ada peningkatan jumlah pengunjung/ pembeli, orang rela berdesakkan demi mendapatkan bahan belanjaan tertentu.
Lazim diketahui bila konsumsi masyarakat kita melejit pada hari-hari sebelum lebaran. Lalu apa yang dapat kita tarik dari situ, apakah memang bahwa lebaran senantiasa dekat dengan belanja pakaian baru dan melengkapi koleksi kue-kue yang akan disuguhkan pada sanak kerabat di hari raya nanti?
Kiranya yang mendesak diperbaharui ulang adalah semangat kebatinan kita untuk terus memberi arti pada esensi ber-hari raya, pada cara kita membelanjakan kekuatan jiwa kita pada nilai-nilai ketulusan; tulus beribadah dan tulus berhubungan dengan manusia sesama; ini terasa kian penting mengingat pola interaksi manusia kini, baik dengan 'panggilan' spirit Ilahiah yang terus menggedor nurani maupun dengan cara kita bermasyarakat, terkesan mengarah pada "disequilibrium",semakin menuju titik kritis yang memiriskan.
Walhasil semoga saja, setelah ditempa Ramadhan tahun ini, akan membuat kita semua semakin tercerahkan. Amien...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir Dan Bathin

Rabu, 24 September 2008

Jiwa Merindu






Serupa Rindu terbakar
di kelopak Ramadhan,
tiap hamba mendamba harap :

"Ya ALLAH, maafkan salah kami yang pasti selalu,
dan terimalah puasa kami,
sebagai energi penyempurna
tuk menjadi Kekasih-Mu, Amien Yaa ALLAH.."

DHIYA SAYANG..





Kala KM.Lambelu bertolak dari pelabuhan Murhum Bau-Bau, serasa ada perih rindu tertahan, bukan karena ada kekasih yang bertolak tapi di kapal tadi, ada kemenakan imut kecilku, yang selama beberapa bulan terakhir ini tinggal bersama kami, di jln. La Ode Boha, ada rindu bergelayut saat teringat momen-momen lucu bersama DHIYA, anak kakakku ini, awalnya tinggal di Makassar, mengikuti orang tuanya yang sedang menempuh pendidikan Spesialis di Kedokteran Unhas, namun untuk alasan tertentu, kemudian tinggal sementara bersama Sang Nenek.
Aku bibinya, bersama tante-tantenya yang lain, girang bukan kepalang. Bayangkan ada sosok imut lucu, menggemaskan, polos dan manis; menemani hari-hari kami. Aku sendiri begitu dekat dgn Dhiya, sampai-sampai bila aku keluar rumah, Dhiya sejadi-jadinya menangis minta ikut...
Aku jadi teringat pada Hasiani dan Atikah; dua adik sepupuku yang tak begitu Dhiya senangi, mungkin karena mereka kurang bisa mengkomunikasikan perasaan cintanya pada Dhiya, beda dengan aku, upss... hehehe
Dhiya demikian sayang sama aku, bahkan menurut orang tuanya, kakak di Makassar, saat Dhiya sedih atau menangis, maka namaku akan disebut-sebut sampai tangisnya mereda..
Duh Dhiya..aku rindu kamu sayang !

Inspirasi





Perlahan, puasa Ramadhan berjalan hingga hampir tiba di garis finish. Semoga saja membekas cahaya di hati kita. Ragu tak jarang bertengger; jangan-jangan puasa kita hanya sekedar "berlapar & berhaus ria" tanpa setetes makna mengisi nurani. Kami mohon ampun pada-Mu Ya Rabbi, ampuni takabur dan sombong di hati kami semua, Amien.