Minggu, 01 Juni 2008

STRUCTURE 1, Monday, 2nd of June 2008

Dear my nice students here are the material of structure 1 for the lecture on 2nd of June 2008. Also you can check the assignment and at the time when I get back you can submit to me. Please notice there many others sources you can try to find out and learn them.
CONDITIONALS
In a conditional sentence, the if clause expresses the condition and the main clause expresses the result of the condition.
I will go to the concert tonight if I have time
main clause if clause
Conditionals may be real or unreal. Real conditionals refer to things that are true or can be true. In a real conditional sentence, the if clause is always in the present tense. The main clause may be in the present tense or the future tense.
Present idea I always take an umbrella if it rains, future idea if the weather is nice next weekend, we will go on a picnic. Unreal conditionals refer to things that are not true or can not be true. I would buy a house if I had enough money. This unreal because it is not true now. The truth is that I don't have enough money so I won't buy a house. Unreal conditionals express present or past ideas. For a present unreal conditional, use a past tense verb in the if clause and would + base form of the verb in the main clause. Could or might can be used in place of would.
If Mary lived in this city, I would see her every weekend . This sentence is unreal because Mary doesn’t really live in this city and I don’t really see her every weekend. In a present unreal conditional, when the main verb is be, always use were; never use was. Robert would enjoy this party if he were here. Unreal conditionals about the past use the past perfect form of the verb in the if clause and would + have + the past participle form of the verb in the main clause. Could or might can be used in place of would. If you had come to the party last week, I would have danced with you. Mary might have gone to work yesterday if she hadn’t been sick
ASSIGNMENT:
Add some more explanation about conditional sentences especially conditional sentence type 1, 2 and 3 with the examples of them.

Laughing freely and free of charge

Anecdote on learning English
Situation:
A young Indonesian who have just learnt English on how to count from one to ten (1 – 10). He is so confident and very proud of his English (even though in fact he just can count from one to ten and few other words of English vocabulary including ‘yes’ and ‘no’. Someday when he is on his great confidence he meet an English speaking people (native speaker of English). So he want to have a small chat with the native speaker. Unfortunately he does not know how to start the conversation. In his confusion he gets a nice idea that he should start the conversation by stumbling his step to the native) so he just go along. Duuuukk…! Ouch…..! He has successfully stumbling his step to the native. It happen to them that the conversation has started.
Indonesian : I am sorry sir!

Native Speaker : I am sorry too.

Indonesian : (thinking, ‘this native speaker must have the wrong idea to ask me to count in English. Let’s see whether you or me would give up’). I am sorry three.
Native Speaker: What are you sorry for?
Indonesian: What are you sorry five?
Native Speaker: Are you sick? (mentally or insane)
Indonesian: Are you seven?
Native Speaker: ???????????????????????
This young Indonesian has failed to differentiate between sounds and recognizing words. In his perception the word too sounds two. And he thinks that this native speaker try to ask him to count. Again he fails to differentiate sounds and recognizing words – for with four and sick with six.

Why Good Things Happen To Good People

“Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai uang kuliahnya. Pada suatu hari, ia sangat bingung karena ia hanya punya uang sepuluh sen saja, padahal ia sangat kelaparan.
Ia memberanikan dirinya untuk minta makan pada tetangganya, tapi ia gugup ketika seorang nyonya yang perlente membuka pintu. Ia tidak jadi minta makanan. Ia minta segelas air saja.
Perempuan itu merasa bahwa anak muda itu dalam kesusahan. Ia berikan kepadanya segelas susu. Ia minum perlahan-lahan. Ia bertanya, “Berapa?”
“Anda tidak perlu bayar apa pun?” kata perempuan itu, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima apa pun buat perbuatan baik
“Kalau begitu, terimakasih saya yang setulus-tulusnya,” katanya. Ketika anak muda itu meninggalkan rumah itu, ia merasa lebih bahagia dan keimanannya kepada Tuhan serta kepercayaannya kepada umat manusia menjadi lebih kuat.
Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik itu jatuh sakit. Dokter-dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Ia dikirim ke rumah sakit dan diserahkan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika ia mendengar nama kota asal pasiennya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapa dia.
Ia mulai merawatnya dan segera mengenal sang nyonya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, perempuan itu sembuh.
Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan untuk ia setujui. Ia memperbaiki tagihan itu dan menandatanganinya. Di atas tagihan biaya rumah sakit itu ia menuliskan catatan kecil. Ia kirimkan kembali kepada pasiennya.
Perempuan itu tahu ia harus membayar tagihan itu selama sisa usianya. Walaupun ia bahagia karena telah disembuhkan, ia juga kuatir tidak bisa membayarnya. Ia membuka amplop dan terkejut ketika membaca tulisan di atas surat tagihan itu: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu- dr Howard.”
Tangisan kebahagiaan membasahi mukanya. Ia bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada dokter muda itu akan balasan kebaikannya.”
Cerita di atas dikirim ke alamat email saya. Pengirimnya adalah bagian dari organisasi internasional untuk menyebarkan kebaikan, The Random Acts of kindness Foundation. Saya terharu dengan perilaku perempuan elegan itu yang berempati dengan derita orang miskin yang tidak dikenalnya. Saya lebih terharu lagi dengan dokter muda yang menjadi tangan Tuhan; untuk membalas kebaikan sekecil apa pun dengan berlipat ganda.
“Apalagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi,” firman Tuhan. “Sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba yang selalu menolong orang lain,” kata Nabi Muhammad saw. Alam ini diatur oleh hukum resiprositas, hukum balas- membalas. Sapa orang dengan tatapan kasih, dan ia akan menjawabmu dengan pelukan. Makilah kawan-kawanmu, dan mereka akan menyebarkan keburukanmu.
Mungkin Anda akan mengajukan keberatan. Mengapa orang yang kita bantu sering membalas air susu dengan air tuba? Pada saat seperti itu, ingatlah bahwa Tuhan tidak memilih orang itu sebagai tanganNya untuk membalas kebaikan Anda. Tapi ia pasti memilih tangan lain yang akan datang padamu dari orang yang tepat pada saat yang tepat.
Saya ingat kawan saya yang terkenal sangat dermawan. Pada waktu kecil, ayahnya mengumpulkan anak-anak miskin di kampungnya. Ia mendidik dan membesarkan mereka dengan dananya sendiri. Setiap hari ia harus bekerja sangat keras, sehingga sering melupakan anaknya sendiri. Ketika ia mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, pada saat-saat kritis ia selalu memperoleh pertolongan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Tentu saja mereka bukan anak-anak asuh bapaknya. Tapi tetap saja mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang dikrimkan kepadanya pada saat yang tepat.
Pada khotbahnya menyambut bulan Ramadhan, Nabi saw bersabda: “Sayangilah anak-anak yatim orang lain, nanti Tuhan akan sayang pada anak-anak yatim yang kamu tinggalkan. Bersedekahlah walaupun dengan seteguk air atau sebutir kurma.” Ia sedang mengajarkan kepada kita hukum reprositas.
I500 tahun sesudah itu, puluhan ribu mil jauhnya dari negeri Nabi, seorang dosen Fakultas Kedokteran di Case Western University membiayai dan melakukan penelitian-penelitian tentang manfaat memberi atau bersedekah bagi pelakunya. Ia telah menjadi tangan Tuhan untuk membuktikan kebenaran sabda Nabi. Dengarkan kata-katanya: “Kamu ingin bahagia? Dicintai? Selamat? Sejahtera? Kamu ingin ketemu orang pada saat-saat kritis dan percaya pada dukungannya? Kamu ingin kehangatan hubungan yang sejati? Kamu ingin berjalan di dunia setiap hari dengan yakin bahwa inilah dunia yang penuh kebaikan dan harapan? Aku punya satu jawaban: Memberi. Berilah setiap hari, walaupun dalam jumlah kecil. Kamu akan hidup lebih bahagia. Berilah dan kamu akan lebih sehat. Berilah dan kamu akan berusia lebih panjang.” Dr Stephen Post, dosen itu, menuliskan hasil penelitiannya yang disimpulkan dalam judul bukunya Why Good Things Happen to Good People.

Polisi Versus Mahasiswa (suatu ketololan sistemik)

Oleh : Nani Cahyani

Penyerbuan kampus Universitas Haluoleo Kendari, oleh Polisi yang baru-baru ini menyedot perhatian publik, dan Peristiwa 27 Mei 2008, di Kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea Makassar kala mahasiswa berdemo menentang kenaikan harga BBM. Mempertontonkan dua golongan anak bangsa yang sama-sama tertindas; polisi dan mahasiswa, saling menggertak dan melempar batu. Perilaku melempar batu diduga hasil dari budaya primitif yang kerap jadi rujukan pertama, ketika jalan-jalan moral tak menarik lagi. Polisi sungguh tak secuil, rindu untuk melukai mahasiswa, demikian pula mahasiswa, tak ingin mengotori tangan berurusan dengan polisi. Bukan kali ini saja, dua golongan tadi berseteru. Deret peristiwa pergolakan di Indonesia belum juga bisa memutus tradisi bentrok di antara mereka. Lalu model solusi apa yang kiranya jadi pereda nyeri bagi kepedihan sosial yang setiap saat dapat menerkam batas-batas kesabaran semua pihak. Mahasiswa dan polisi; dua elemen bangsa yang belum bisa terlepas dari perangkap-perangkap palsu yang diklaim sepihak sebagai ciri khas masing-masing.
Mahasiswa di dalam kampus di Indonesia mengalami depresi massal, mereka mengalami semacam split personality, serupa inkonsistensi kejiwaan yang tak dapat menentukan diri, seperti apa peranan, tanggung jawab dan hal lain yang tumpang tindih. Mahasiswa belum utuh mendapat kesempatan mencicipi berkah pengetahuan manusia, kampus kini terjebak pada rutinitas birokrasi akademik semu yang nihil makna, kampus tak kunjung sanggup untuk menjelma sebagai tempat benih luhur pengetahuan dirangsang untuk bertumbuh, kemunduran (kalau tak ingin disebut sebagai kehancuran) institusi perguruan tinggi kita. Saban hari ribuan sarjana, ratusan master dan berjubel doktor dan profesor dicetak kampus-kampus kita, namun sekedar berhenti pada ritual akademika belaka, doktor dan professor kita tak layak disebut ilmuwan; itu jika tafsir atas ilmuwan, adalah manusia pilihan yang mendedikasikan dirinya bagi kemajuan ilmu, peradaban dan kemanusiaan. Gelar akademik hanya menambah beban saja, membuat kita jadi pongah dan menjadi bukti hidup, betapa celakanya sistem pendidikan Republik ini
Polisi apalagi, terkadang kita begitu takjub dengan eksistensi polisi, yang idealnya bergerak demi tegaknya wibawa hukum, namun praksis yang kerap berlangsung di masyarakat, polisi jadi bagian dari sejumlah penyelewengan wewenang sebagai aparat. Yang untuk hal tertentu bukan menjadi solusi atas problem bangsa, tetapi justru menelusup masuk sebagai bagian dari problem, semisal peran polisi dalam masyarakat madani yang tak dimengerti polisi kita, menariknya sejumlah pelanggaran yang dilakukan polisi baik sengaja atau tidak, dinisbatkan bukan semata kesalahan polisi saja, tapi dituding berkelindan dengan persoalan belum sejahteranya polisi kita, walau ternyata dengan argumentasi serupa, kita dapat membaliknya, bahwa inilah bukti kalau polisi kita tak memahami kesulitan bangsa dan penderitaan rakyat. Memang jika pembandingnya adalah gaya hidup ala pengusaha atau polisi di negara-negara maju, jelas polisi kita sangatlah miskin, miskin sekali malah. Tapi kan, analisa kasus tak boleh bercerai dari konteks sosial/ ruang waktu; dimana polisi itu hidup, bangsa kita kini, masih berjuang agar tak bubar lantaran tak sanggup memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya sendiri seperti makan dan berobat. Polisi sangat durhaka kalau tak menyadari kalau faktanya mereka termasuk segelintir anak bangsa yang lumayan beruntung dengan gaji, tunjangan dan fasilitas lainnya dari Negara. Perbanyaklah bersyukur wahai polisi kita.
Polisi kita dan juga mahasiswa kita, ialah bagian dari anak bangsa yang sama-sama terjepit dengan ekonomi bangsa yang sekarat. BBM naik, maka yang susah tentu polisi dan mahasiswa juga. Mungkin perlu diangankan suatu ketika polisi dan mahsiswa kita serempak bersama dalam satu barisan menentang kebijakan apapun yang berpotensi menciderai amanat konstitusi seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dsb.

TENGAH MALAM UNTUKMU

by : Nani Cahyani

karna kau
sebuah puisi
hendak kutulis

tapi ah,…..
……..berdetik menit lepas jauh
segala kata puisiku
tak pecah juga, tak terbit juga

ah, kau lebih dari sudah,
langit dari setiap kata, yang akan kucipta
kau segenap pesona dari seluruh puisi,
jiwa yang kuyup di setiap musim gugur
mendamba kelopak cahaya di senyummu
yang sederhana,
kau memang sederhana,
itulah alasan kuat
betapa menyayangimu adalah
pekerjaan termewahku,

ah, karna kau
rasa menjelma rasa…

ANTARA HUKUM, HATI DAN HIKAYAT

Oleh : Nani Cahyani

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dan teramat megah dengan keanekaragaman budaya, etnik, alam dan gugusan pulau yang menyentuh hasrat nurani yang terdalam untuk bergumam aduhai…… Pembuktian logis dari kemegahan bangsa ini ada dalam sejarah yang telah mencatat keemasan bangsa, dimulai dengan kejayaan Ken Arok dan Gajah Mada dengan Majapahit yang konon hikayat cerita ini terus saja menghiasi sampul-sampul buku sejarah generasi bangsa ini. Cerminan kekaguman hati akan selalu tak sanggup menjabarkan betapa indahnya sinopsis cerita sejarah akan kemegahannya.
Ada banyak usaha yang menyatukan segala opini, pendapat dan keinginan untuk tetap menumbuhkan semangat nasionalisme, kecintaan pada bumi pertiwi, hingga tiap-tiap individu selalu ada dengan keakuannya, aktif dalam percaturan lokal maupun global hingga menembus batas-batas negara. Apakah masih signifikan peran kaum intelektual yang konon menyebut diri sebagai terpelajar, amat menggelitik benak pemikiranku? Bagaimanakah kedekatan hukum, hati dan hikayat mungkinkah setipis kain sutera karena hukum hanya makanan untuk orang-orang yang paham akan dirinya sendiri, mmmm sedangkan hati selalu dekat dalam pembuluh darah dan akan selalu ada karena hubungan kekerabatan. Hikayat kedekatannya dengan diri sendiri jangan dipertanyakan lagi. Ada diskusi-diskusi pinggiran yang radiasi sinarnya mengalahkan segala jenis tema dan narasi besar. Ada pepatah yang konon selalu ampuh dan sakti jauh dimata dekat selalu…., diskusi pinggiran akan senantiasa hidup dalam lorong-lorong gelap para intelektual, yang terselubung, tak terekspos media.
Hidden tapi luar biasa menembus batas-batas langit laksana seorang seorang astronot yang takjub saat melihat galaksi, laksana seorang ibu yang mendekap anaknya dalam buaian sayang. Kemanakah hilangnya semua itu? Ketika anarkisme menjelma hal luar biasa dilayar kaca, saat para petinggi bangsa saling mencari simpati berdalih rakyat dan kemanusiaan, saat mahasiswa sibuk beradu argumen, menyuarakan hati nurani rakyat, apakah kamu, dan semuanya benar mutlak mungkin iya mungkin juga tidak terlepas dari hati kita yaitu satu tempat dalam jiwa yang teramat sangat luasnya.
Setiap masa adalah penaklukan dari keegoan hati dan hikayat diri, ada rasa dalam perasaan yang peka akan rasa. Hukum yang hakiki adalah milik-NYA , bolehlah berbangga dengan hikayat dan hati tapi tidak untuk saat airmata ibu pertiwi telah mengalir karena dia terus tersakiti.

BAHASA SEBAGAI KEKUATAN BANGSA

Oleh : Nani Cahyani
Ada orang bijak berkata kemajuan umat manusia tidak terlepas dari tiga penemuan besar yang merubah wajah peradaban. Ketiga penemuan itu ialah api, roda dan uang. Api memberikan energi dalam proses kerja, dari sini kesadaran tentang urgensi sumber-sumber energi dan pengelolaannya pun tumbuh. Roda adalah kreasi unggul manusia ; memicu keajaiban mobilitas lewat transportasi. Uang penanda lompatan kesepakatan antar kita, untuk melakukan pertukaran dengan nominal tertentu, uang menjelma katalis dalam dalam tingkah laku ekonomi.
Selain ketiga hal tadi, anda dapat menambah variabel lain sebagai penyokong peradaban sepanjang itu logis rasional, niscaya akan diterima secara luas. Namun setidaknya kita semua akan bersepakat, bila salah satu yang berperan penting bagi kegemilangan peradaban dan kemajuan adalah ketika manusia menemukan bahasa (lisan maupun tulisan). Lewat bahasa, gumpalan pikiran dalam benak manusia yang satu dapat dipahami dan berinteraksi dengan peradaban yang lain. Dengan bahasa, kita melampui batas ruang dan waktu. Kita tidak sezaman dengan Plato, Archimedes, Ibnu Khaldun, William Shakespeare, namun dengan leluasa kita berkesempatan memahami mereka, berkenalan dan menjelajahi semangat hidup mereka melalui membaca/mengkaji karya-karyanya. Nyaris seperti bercakap-cakap dengan mereka.
Ketika ternyata kemampuan berbahasa merupakan prasyarat utama, dari perkembangan kecerdasan dan matangnya kebudayaan maka tepat kiranya, bila kejayaan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat penguasaan dan apresiasi terhadap bahasa. Baik itu bahasa daerah, bahasa nasional maupun bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Lalu pertanyaan yang muncul, apakah sudah tersedia ruang dalam kehidupan sehari-hari untuk memperkaya pemahaman berbahasa?
Di era global, penguasaan bahasa Inggris menjadi faktor yang mempercepat peningkatan kesejahteraan bangsa yang lebih baik. Negeri jiran seperti Malaysia, jauh hari telah menjadikan bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar kedua setelah bahasa melayu. Dari situ, transfer pengetahuan dan alih teknologi, lebih leluasa berlangsung ketimbang kita di Indonesia. Rata-rata penduduk Malaysia lebih fasih berbahasa inggris dibanding kita. Apalagi memang Malaysia menyediakan anggaran besar bagi pendidikan, yang tentu berdampak pada peningkatan kemampuan rakyat. Secara makro, penguasaan bahasa Inggris bernilai positif bagi menjulangnya daya saing bangsa dan pengembangan industri pariwisata. Malaysia berkampanye dengan slogan “Malaysia Asia Sebenarnya (Malaysia, Trully Asia)” seakan ingin merebut perhatian dunia dikawasan Asia Tenggara.
Bagaimana Indonesia? Sebuah pertanyaan menggelitik. Saat kita masih jajahan Belanda, para pelajar yang beruntung menamatkan sekolah menengah, mereka akan menguasai minimal dua bahasa asing (Belanda dan Inggris). Gambaran itu kontras dengan kondisi pendidikan bahasa Inggris di tanah air sekarang. Sejak SMP sampai SMU, enam tahun lamanya belajar, namun tak kunjung lancar. Gerangan apa penyebab? Kalau boleh merenung, setidaknya beberapa poin patut diperhatikan :
• Pengajaran yang teramat “Grammar Oriented”, memberi bobot berlebih pada penguasaan tata bahasa, membentuk kesan bahwa bahasa Inggris itu rumit, penuh rumus dan kering dari improvisasi. Ini bukan berarti tata bahasa tidak penting, namun metode dan isi pengajaran yang perlu ditinjau kembali.
• Suasana belajar yang kaku perlu dirubah. Sekedar pembanding metode Learning and Having fun (belajar sambil bermain) yang di perkenalkan LSM Global Partners (Mr. David, Mrs Carole, Miss Margaret dkk) bagi siswa SD, SMP, dan SMU di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara, patut menjadi perhatian kita, karena dengan seketika saja ruang kelas menjadi hidup dan para pelajar begitu bersemangat
• Murid-murid yang cenderung pasif harus disentak dengan melibatkan mereka, sebagai subjek pembelajar bukan semata di tempatkan sebagai objek peserta didik yang diisi terus sesuai keinginan guru
• Kualitas tenaga pelajar mesti di up grade (ditingkatkan) agar sanggup melentur bergerak, sesuai dengan tuntutan perubahan dunia pendidikan dan masyarakat
• Sudah saatnya setiap SMP dan SMU menyediakan satu hari khusus, yang mewajibkan semua guru, pelajar dan pegawai sekolah berbahasa Inggris, misalnya pada hari Sabtu
Kita sesegera mungkin harus menangkap kehendak dan peluang ini, spesifik di Sulawesi Tenggara, itu jika kita ingin berbenah menjadi yang terbaik di kawasan Timur Indonesia. Esensi yang ingin dipelihara ialah bahwa keinginan untuk belajar tak melulu tertafsirkan lewat satu metode belaka, terbentang demikian luas jalan untuk belajar, yang dahulunya terbatas berhenti pada belajar saja, namun kini belajar selain bertujuan memekarkan bakat luhur kemanusiaan, hendaknya juga memenuhi cita rasa rekreatif. Ini sejalan dengan konsep pembelajaran modern yang memadukan berbagai varian kecerdasan dalam diri manusia. Serupa kombinasi apik dari potensi belahan otak kiri yang cenderung eksak, akurat, kaku dan deskriptif dengan potensi belahan kanan otak yang erat dengan pemikiran imajinatif, longgar dan sintesis. Walhasil, memang penguasaan dan apresiasi bahasa akan menjadi pilar kekuatan dan kemajuan bangsa